Tampilkan postingan dengan label tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tafsir. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Oktober 2012

TAFSIR AL QUR’AN SURAT AL FATIHAH


 TAFSIR AL QUR’AN SURAT AL FATIHAH

1.       Bismillahirrohmanirrohim
A.      Dari segi arti
       : artinya dengan, 100%
Menyebut nama Alloh 100%, TIDAK dengan nama yang lain, menghadapkan wajah, pikiran dan Qalbu hanya kepada Alloh dan memalingkannya dari yang lain.. (inilah arti Bismillah = dengan nama Alloh).
Ar Rohman : Maha Pengasih
Ke “Pengasih” an Alloh meliputi semua makhluk tanpa terkecuali, memberi dan mengasih kepada semua manusia siapapun juga, baik muslim maupun non muslim, dalam urusan dunianya. Berlaku hukum sunnatulloh, siapa yang bekerja keras, maka ia memperoleh hasil, siapa yang rajin belajar maka ia pandai, siapa yang menjaga kesehatan, maka ia menjadi sehat, dst. Sunnatulloh atas semua urusan dunia
Ar Rohim : Maha Penyayang
Ke “Rohim” an Alloh hanya diberikan kepada hamba-hamba yang menyembahNya saja, sayang nya Alloh di dunia dan di akhirat, khusus kepada hamba Nya yang berbakti, taat pada segala aturan dan perintah Nya.
B.      Dari segi bahasa
Akhir huruf dari semua ayat dalam surat Al Fatihah diakhiri dengan      (ya mati) dan bunyi kasroh, menunjukkan keharmonisan sya’ir dan keselarasannya, begitupun dengan arti dan maknanya saling berkaitan dan bersambung satu dengan lainnya. Tidak semua pantun atau syair kata-kata dan maknanya saling berkaitan dan berhubungan satu sengan lainnya. Contoh :
“Dahulu loyang, sekarang besi
  Dahulu sayang, sekarang benci”
Antara loyang dan besi tidak berhubungan, antara loyang dan sayang hanya sama bunyi akhir tetapi artinya tidak nyambung/berkaitan.
Inilah salah satu bukti bahwa bahasa Al Qur’an adalah bahasa yang tinggi, bahasa yang diciptakan bukan oleh manusia, tetapi bahasa “langit”, bahasa yang diciptakan oleh Alloh SWT. Setiap kata-kata dalam Al Qur’an tidak ada yang sia-sia, merupakan “mu’jizat” yang dianugerahkan Alloh kepada Nabi Muhammad SAW. Mengapa dikatakan mu’jizat? Karena seorang Muhammad dikenal dikalangan kaumnya merupakan seorang yang UMMI, tidak bisa membaca, tidak bisa menulis, apalagi bersya’ir !
Kisah Al Walid Bin Mughiroh :

C.      Dari segi makna
Bismillahirrohmanirrohim : Jika kita menyebut nama Alloh dengan menghadapkan wajah, pikiran dan qalbu kita 100% hanya kepada Alloh, maka Allohpun akan memberikan dengan sempurna “Rohman” dan “Rohim” Nya.
        Huruf Jar  Alloh adalah Majrur (kata yang di Jar kan).
Dengan      maka Allohi (100%), Ar rohmani (100%), Ar rohimi (100%)
Keyakinan kita kepada Alloh 100%, membuat kita yakin Alloh PASTI mengasihi kita 100%, menyayangi kita 100%, sehingga dengan keyakinan ini menjadikan kita beramal all out (sungguh-sungguh 100%) . Contohnya :
Ibadah untuk mendapatkan Rohman Nya (urusan-urusan kebaikan di dunia) :
1.       Belajar yang rajin
2.       Mencari rizqi dengan bersungguh-sungguh
3.       Menjaga kesehatan dengan makan yang bergizi dan rajin berolahraga
Ibadah untuk mendapatkan Rohim Nya (urusan-urusan kebaikan akhirat) :
1.       Sholat tahajjud dgn rajin bangun malam
2.       Tilawah Al Qur’an rajin
3.       Shaum sunnah rajin
4.       Sholat dhuha rajin
5.       Berbakti pada orang tua rajin
Jika kita yakin 100% pada Alloh, maka kita yakin dengan sifat Rohman Nya 100%, maka urusan-urusan dunia kita Pasti akan ditolong/dibantu oleh Alloh. Contoh : ketika kita sekolah menghadapi pelajaran yang sulit, dengan membaca Bismillah dan kemudian berusaha dengan keras untuk memahami pelajaran tsb dan mengulang-ulangnya, insyaAlloh Alloh akan memberi jalan pemahaman itu (dari arah manapun) sampai kita paham, sehingga ujian tidak perlu tidak PD sehingga harus mencontek atau cari bocoran soal dan jawaban dari orang lain !
2.       Alhamdulillahirobbil’alamiin.
Dari segi arti
Alhamdu                      :   Alif lam, pujian tertentu hanya kepada Alloh. Pujian yang umum
Hamdun                   . Pujian itu 100% sepenuhnya hanya milik Alloh (Segala pujian hanya milik Alloh), tidak memuji manusia, memuji guru, memuji dosen, memuji pemimpin, memuji alam semesta, memuji ilmu, dll (Semua kelebihan manusia2 karena Alloh). Berdasarkan ayat sebelumnya, Alloh sudah memberikan ke Rohman an Nya dan Ke Rohim an Nya kepada kita, maka adalah WAJAR bahwa segala pujian itu hanyalah milik Alloh. Dengan kita hanya 30% saja yakin/percaya pada ke Rohman an dan ke Rohim an Alloh, Alloh sudah menyayangi dan mengasihi kita lebih dari 50%. Dikasih sehat, padahal kita tidak menjaga kesehatan, dikasih pintar/pandai padahal kita belajar asal2an. Dikasih rizqi berupa harta padahal kita tidak mencarinya (dari orang tua), atau mencarinya tdk dgn upaya yg keras. Terlalu banyak hal-hal yang patut kita syukuri terhadap segala hal yang sudah diberikan Alloh kepada kita...
Alhamdu li llah, li artinya untuk/bagi (Selalu untuk atau selalu bagi) Alloh, menuju Alloh... sebagai Rabb, Rabb Adalah Tuhan yang membuat aturan hidup, berupa ayat-ayat, baik ayat-ayat Kauniyah (seluruh alam ciptaan Nya) maupun ayat-ayat Qauliyah (Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah). Al ‘Alamiin : semesta alam (universal), baik alam nyata/syahadah maupun alam ghaib.
Memuji Alloh sebagai Rabb (yang mambuat aturan hidup) :
1.       Qauliyah :  memahami dan mengamalkan seluruh isi AlQur’an dan Sunnah Rasululloh
2.       Kauniyah :  menguasai ilmu-ilmu “keduniaan”, seperti politik,sosial,ekonomi, budaya, hankam, kedokteran, Mipa, Teknik, dll.
Dengan prinsip ini, karena Alloh yang mengatur alam semesta ini – seharusnya – manusia yang berbakti dan taat pada aturan Alloh, LAYAK “menguasai” dan “memimpin” manusia. Telah dibuktikan oleh sejarah, bahwa Islam pernah memimpin dunia selama 700 th, abad ke 7 – 14. Tahun 611 M Nabi Muhammad menjadi Rasul, tahun 615 M Sayyidina Umar menaklukkan Persia dan Romawi...
3.       Ar Rohmanirrohim
Antara ayat 2 dan 3 tidak terputus, masih bersambung dan saling berkaitan...
Alhamdulillahi (Segala puji hanya milik Alloh) :
1.       Rabbul ‘alamiin  : sebagai Rabb semesta alam
2.       Ar rohmani : sebagai Yang Maha Pengasih
3.       Ar Rohimi  : sebagai Yang Maha Penyayang
Dari ayat pertama, kita menyebut nama Alloh karena sifat Alloh Ar Rohman (Maha Pengasih) dan sifat Ar Rohim (Maha Penyayang), lalu dengannya kita mendapatkan kasih dan sayang nya Alloh, baik di dunia maupun di akhirat..maka adalah WAJAR kita memuji Alloh karena Alloh sudah membuat aturan bagi kita, yang aturan itu membawa bahagia dan selamat dunia dan akhirat, yang Alloh juga sudah melimpahkan kasih Nya, dan sudah memberikan sayang Nya pada kita...
Alhamdulillahi robbil”alamiin
Alhamdulillahirrohmani
Alhamdulillahirrohimi
Terbukti Alloh sudah memberikan Rohman dan Rohim Nya kepada kita, maka SEPANTASNYA lah kita memuji Alloh dgn sifat Rohman dan Rohim Nya.
4.       Maaliki yaumiddin
Malik   : Raja/Penguasa (menguasai tetapi tidak memiliki)
Maaliki (Faa’il = subjek) : Pemilik
Yaumiddin : hari pembalasan
Alloh sbg Pemilik hari pembalasan, Penguasa sekaligus Pemilik..
Semua hal tergantung hanya kepada Alloh, menguasai dan memiliki segala-galanya secara tunggal, maka manusia pada hakikat nya juga milik Allah. Sehingga sewajarnya kita mengabdi, berkhidmat, taat, loyal, cinta dan takut hanya pada Alloh...Semua manusia akan berujung kepada Alloh, bertemu dgn Alloh dan  menghadapi hari persidangan yang adil...yang tidak melewatkan satupun kejadian dan peristiwa.
Pada hari kiamat dan hari pembalasan, hilang sudah semua kenikmatan2 yang dijumpai di dunia; harta benda yang melimpah, istri atau wanita cantik yang mendampingi, anak2 yang lucu, kedudukan yang tinggi di mata manusia, keterkenalan/popularitas. Semua berakhir dan berbatas hanya dalam kehidupan dunia....Dengan pemahaman ini, maka setiap amal yang dilakukan di dunia (dan manusia mempunyai kuasa untuk beramal baik di dunia), akan ada pertanggungjawaban dan pembalasan atas semua amal. Maka manusia diarahkan untuk memandang bahwa ada alam lain diluar alam dunia, sehingga tidak terkekang oleh kepentingan2 duniawi (0% dunia, 100% akhirat).
, beramal baik untuk mendapatkan balasan yang baik berupa surga, dan takut berbuat dosa karena ada akibat buruk yang menanti yaitu adzab siksa neraka.

Ayat ini adalah persimpangan jalan...antara ‘ubudiyah kepada Alloh dengan membebaskan diri dari keterikatan dan keterkekangan urusan dunia, menempatkan hakikat kemanusiaan yang tinggi yang dikehendaki Alloh bagi hamba-hamba Nya; dengan ide-ide dan amal-amal yang mengikuti keinginan nafsu yang sempit, pemikiran yang kotor, dan kesenangan2 sesaat...
Tidaklah sama orang-orang yang beriman kepada akhirat dan orang2 yang mengingkarinya, baik dalam perasaan, akhlak, perilaku, maupun amal tindakannya..mereka adalah dua golongan yang berbeda tabiatnya, tidak akan bertemu di muka bumi dalam suatu amalan, dan tidak akan bertemu di akhirat dalam pembalasannya...
Inilah persimpangan jalan...

5.       Iyyakana’budu wa Iyyakanasta’iin.
Ini adalah bagian dari aqidah yang menyeluruh, selain kepercayaan pada adanya hari pembalasan; yaitu tidak ada ibadah kecuali kepada Alloh dan tidak ada isti’anah (permohonan pertolongan) kecuali kepada Alloh juga..
Karena Alloh adalah Pemilik dan Penguasa hari pembalasan, maka hanya kepada Alloh saja kita menyembah, dan hanya kepada Alloh saja kita memohon pertolongan.
Iyyaka  : Hanya kepada-Mu (Alloh) , disebut diawal ayat, baru setelahnya na’budu. Alloh disebut terlebih dahulu, baru hamba (manusia) menyembah dan beribadah kepadanya. Ini mengandung arti peniadaan manusia, mengenal dan mengingat Alloh terlebih dahulu, baru kita manusia/ hamba menyembahNya. Na’budu ( fi’il mudhoriy) merupakan aktivitas yang terus menerus (menyembah dan beribadah pada Alloh), selalu hingga waktu tak terhingga...dilakukan oleh manusia yang jatidirinya tiada... semua yang ada hanya Alloh..
Iyyaka nasta’in : Hanya kepada Mu (Alloh) kami memohon pertolongan.
Memohon pertolongan (dalam urusan yang diluar kausalitas, seperti umur, rizqi, jodoh maut/nyawa)  hanya kepada Alloh, tidak kepada
1.       Nabi
2.       Sahabat dan tabi’in
3.       Orang tua
4.       Orang “pintar”
5.       Ustadz yang dianggap sholeh
6.       Guru/murobbiy
7.       Suami/istri/anak
Dalam artian, bahwa segala urusan meminta pertolongan (berdoa) hanya kepada Alloh, sedangkan berikhtiar berhubungan dengan manusia diatur sesuai dengan syari’at .
Iyyakana’budu : manusia beribadah dan  menyembah kapada Alloh dahulu, baru
Iyyakanasta’in : manusia meminta pertolongan hanya kepada Nya..
Pembuktian dulu bahwa manusia itu menyembah Alloh, baru ia layak mendapat pertolongan Alloh. Terlalu banyak nikmat yang diberikan oleh Alloh jika dibandingkan dengan seberapa banyak kuantitas dan kualitas penyembahan (ibadah) kita kepada Nya..
1.       Diberi sehat, malah dipakai maksiat (pacaran, dugem, main2 yg berlebihan)
2.       Dikasih cantik malah aurotnya dibuka (diperlihatkan pada semua manusia)
3.       Dikasih rizqi berupa hanya untuk senang2 sendiri (pribadi), tidak dishodaqohkan/wakaf/tdk infaq di jalan Alloh..
4.       Dikasih pandai malah menyombongkan diri dan bangga dengan ilmu yg “sedikit” itu..
Manusia itu lupa bahwa sehat, cantik, kaya, pandai, terpandang itu semuanya datang dari Alloh...
6. Ihdinashshirothol mustaqim
a.Ihdi (huda) ; fi’il amr (kata perintah) petunjuk , na : kami , (diperintahkan oleh Allah) tunjukilah kami, bukan kami memohon petunjuk,             menandakan peniadaan pada jatidiri manusia untuk ketiga kali kepada Alloh, wajib  kita semua (mukmin/ na) memohon diri dg meniadakan dirinya sendiri, dg merendahkan/menghambakan dirinya dihadapan Allah. 
b. Shirotho = jalan. Almustaqim = tol (mustaqim=lurus; Al=tertentu). Artinya jalan yg bebas hambatan, lapang, lancar, mudah, tidak akan kesasar krn lengkap dg petunjuk jalan spt berada di jalan tol. Sdh pasti smp tujuan (bertemu Allah). Kemudian berilah kami ke “Istiqomah” an berada di jalan ini setelah kami mengetahuinya..
Hal ini merupakan urusan yang terbesar dan pertama kali diminta oleh orang mu’min kepada Tuhan Nya agar Dia menolongnya.
7. Shirotholladziina an’amta alayhim.
Jalan orang2 yg pernah Engkau beri nikmat,  (an’am=nikmat; ta=Engkau), An’amta fi’il madhi, artinya telah diberi nikmat (pemberian nikmatnya telah terjadi seperti disebutkan dalam ayat 1 dan 2). ‘Ala=atas; him=mereka. Allah disebut lebih dahulu (mengutamakan Allah diatas segalanya), baru disebut: atas mereka (dihilangkannya jati diri manusia utk ke-4 kalinya). Menunjukkan bahwa Allah yg berhak memberikan petunjuk kpd hambanya bukan manusia (Nabi, Ustadz, guru atau murobbi), krn tugas manusia hanya bisa menyampaikan risalah saja. Bertakwanya seseorang hanya Allah yg berhak memberikan hidayahNya (Hak Prerogatif/Mutlak).
Ghoiru=bukan; maghdubi=dimurkai; ‘alayhim (bukan jalan yg dimurkai), disini Allah berfirman menggunakan kalimat pasif (subjeknya tidak disebut) artinya Allah sebenarnya tdk pernah murka secara langsung, walaupun hambanya berbuat maksiat. Buktinya orang2 kafir, munafik dan fasik masihdiberi  kehidupan yg layak (Ar Rohman). Orang2 yg dimurkai adalah orang2 Nasrani (dikarenakan mereka sudah mengetahui kebenaran tetapi kemudian berpaling darinya).
Wa=dan; laa=tidak (dari dulu, sekarang, sampai yang akan datang);  dhollin (sesat). Orang2 yg sesat adalah orang2 Yahudi (membangkang setiap perintah Alloh dan membunuh Nabi-Nabi Alloh, sehingga mereka tersesat dari kebenaran sampai tidak tahu jalan kebenaran sama sekali).
Artinya orang2 mukmin tidak boleh berakhlak seperti Yahudi dan Nasrani dalam setiap amal, pemikiran dan  semua aktifitas perjalanan hidupnya. Jalan yang harus ditempuhnya adalah jalan hidayah (petunjuk) ke jalan hidup yang lurus yang merupakan jaminan kebahagiaan di dunia dan di akhirat sampai kepada keridhoan Alloh..
Wallohu a’lam bishshowwab..


























Wa Ba’du.
Inilah surah pilihan yang diulang-ulang membacanya dalam setiap kali sholat,
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung.” (Al Hijr 87)

Diriwayatkan  dalam Shahih Muslim dari Hadits Al A’la bin Abdurrahman, dari Abu Hurairoh, dari Rasulullah SAW, Beliau bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku membagi shalat antara Aku dan hamba Ku menjadi 2 bagian, separuhnya untuk Ku dan separuhnya untuk hamba Ku, dan bagi hamba Ku apa yang ia minta. ‘Apabila hamba mengucapkan Alhamdulillaahi rabbil’aalamiin, Allah berfirman Hamba Ku telah memuji Ku”. Dan, apabila hamba mengucapkan Ar rahmaanirrahiim, Allah berfirman Hamba Ku telah menyanjung Ku”. Dan, apabila hamba mengucapkan Maalikiyaumiddiin, Allah berfirman “Hamba Ku telah memuliakan Ku”. Dan apabila hamba mengucapkan “Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”, Allah berfirman Ini  adalah antara Aku dan hamba Ku, dan bagi hamba Ku apa yang ia minta”. Maka apabila hamba itu mengucapkan “Ihdinashshirathal mustaqiim, Shirothal ladziina an’amta alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wala Dhoolliin”, Allah berfirman, “Ini adalah untuk hamba Ku, dan bagi hamba Ku apa yang ia minta.”

TAFSIR AL QUR’AN SURAT AL BAQARAH AYAT 1-5


TAFSIR AL QUR’AN SURAT AL BAQARAH AYAT 1-5

1.       Alif Lam Mim
Tidak ada arti atas huruf-huruf ini.
2.       Dzalikal kitabu laa raiba fiihi hudallil muttaqiin.
Dzalika : Itulah
Al Kitabu : Kitab tertentu, dalam hal ini Al Qur’an.
Mengapa itulah. Tidak inilah? Menggambarkan bahwa Al Qur’an itu letaknya “jauh”, tidak “dekat”. Manusia belum dekat dengan Al Qur’an, kehidupan manusia masih sangat jauh dari aturan Al Qur’an, belum akrab, dekat, apalagi sampai tingkat mengamalkan Al Qur’an. Al Qur’an dianggap “asing” bagi kebanyakan manusia..

Laa : tidak ada
Raiba : keraguan
Fiihi : di dalamnya
Tidak ada keraguan di dalamnya (di dalam Al Qur’an), yang pertama disebut setelah tidak ada adalah keraguan, bukan didalamnya, bisa saja kalimatnya Laa fiihi raiba (tidak ada didalamnya keraguan). Mengapa keraguannya ditekankan terlebih dahulu sebelum keterangan tentang Al Kitab/Al Qur’an? Karena kebanyakan manusia sangat ragu, dan saking ragunya sama sekali tidak mau menyentuh/ membaca/mempelajari Al Qur’an.  
Raiba adalah bentuk keraguan yang paling rendah, hampir mendekati 100% tidak percaya atau bahkan tdk ragu lagi, sangat ragu hingga tidak percaya.
Raiba   :  sangat ragu
Syak   
Dzan
‘Ilmu
Yaqin

Hudallil muttaqiin.
Hudan  : petunjuk
Li   : bagi/ untuk
Al Muttaqiin : Orang-orang yang bertaqwa
Petunjuk : guidance, jalan-jalan yang harus ditempuh hingga sampai pada tujuan akhir yaitu ridho Alloh SWT (surga Nya). Petunjuk ini hanya digunakan atau ditujukan bagi orang-orang yang bertaqwa.
Taqwa yang ada di dalam hati manusia yang menjadikannya mampu mempelajari, memahami, mengamalkan Al Kitab (Al Qur’an). Orang-orang yang bertaqwa layak mendapatkan manfaat dari Al Kitab (Al Qur’an), karena kunci-kunci hatinya terbuka oleh ketaqwaannya, hingga petunjuk dalam Kitab masuk ke dalam qalbu Nya, membuat hatinya tanggap, menyambut dan menerima Kitab suci ini.
Karenanya, orang yang ingin mendapatkan petunjuk dari Al Qur’an, haruslah datang kepadanya dengan hati yang bersih, sehat, tulus dan murni mencari kebenaran yang datang dari Tuhannya. Kemudian datang kepada Al Qur’an dengan hati yang takut dan berhati-hati, khawatir berada di dalam kesesatan dan diperdayakan oleh syetan yang menyesatkan.
Pada saat ini, terbukalah untuknya rahasia-rahasia dan cahaya Al Qur’an tercurah semuanya didalam hati yang datang kepadanya dengan taqwa, takut, responsif dan siap menerimanya.

Diriwayatkan bahwa Umar Bin Khaththab r.a. pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa, lalu Ubay menjawab sambil bertanya, “Pernahkah engkau melewati jalan yang penuh duri? Umar menjawab,”Pernah.” Ubay bertanya lagi,”Apakah gerangan yang engkau lakukan?” Umar menjawab,”Aku berhati-hati dan berupaya menghindarinya” Ubay berkata,”Itulah taqwa.”

Itulah taqwa, sensitivitas dalam hati, kepekaan dalam perasaan, responsif, selalu takut, senantiasa berhati-hati dan selalu menjaga diri dari duri-duri jalan, jalan kehidupan yang penuh dengan duri kesenangan dan syahwat.. duri-duri keinginan dan ambisi..duri-duri kekhawatiran dan katakutan, duri-duri harapan palsu manusia, duri-duri kekuasaan yang tidak dapat memberi manfaat ataupun mudharat, dan duri-duri lainnya yang banyak jumlahnya...

3.       Alladziina yu’minuuna bil ghaibi wayuqiimuunashsholaata wa mimma rozaqnaa hum yunfiquun.
Sifat-sifat orang-orang yang bertaqwa..
a.       Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib.
Yu’minun : fi’il mudhoriy, selalu terus menerus (beriman), selalu beriman, tidak berbatas waktu. BI : dengan (100%) segalanya Al ghaib : secara spesifik dalam hal ini ghaib adalah Alloh SWT, sehingga dengan selalu beriman kepada Alloh, maka orang-orang yang bertaqwa yakin dengan Alloh dan segala sifat Nya. Manusia yang yakin dengan Alloh, maka Alloh adalah tujuan hidupnya, tidak ada yang lain.
Jika manusia sudah berhubungan dengan yang Maha ghaib, maka urusan dunia semua menjadi mudah, sehingga jiwa ini selalu merindukan berhubungan dengan Nya. Semua amal hanya ditujukan untuk mencari ridho Zat yang dirindukannya. Seorang laki-laki, demi cintanya pada seorang perempuan rela melakukan apa saja untuk meraih ridhonya, padahal keinginan manusia (wanita) selalu berubah-ubah, dan wanita yang dicintainya itupun suatu saat akan mati. Dengan segala yang berbatas seperti itu saja, manusia rela berkorban, maka mengapakah untuk Zat yang senantiasa mengasihi dan menyayangi, hidup abadi, tidakkah kita mengorbankan segala-galanya untuk Nya?
Dengan meyakini Alloh dengan segala sifatNya, maka terpeliharalah manusia dari bertindak yang sewenang-wenang, melampaui batas dan sibuk dengan semua urusan yang melalaikanya dari taat kepada Alloh. Sesungguhnya segala kemampuan beramal manusia hanyalah ditujukan untuk menegakkan kekhilafahan di muka bumi.
Iman kepada yang Ghaib, adalah persimpangan jalan dalam mengangkat martabat manusia dari martabat binatang, akan tetapi golongan materialis pada setiap zaman (termasuk kini) ingin mengembalikan manusia ke titik terendah, ke “dunia binatang”, yang keberadaannya tiada lain hanyalah untuk sesuatu yang dapat dicapai panca indranya saja, hingga pemuasan nafsu mengikuti perilaku binatang. Inilah Alloh memberikan petunjuk bagi orang-orang beriman dengan melindunginya dari keterpurukan martabat.
b.      Wayuqiimuunashsholat
Dan orang-orang yang mendirikan sholat..
Yuqiimuun : selalu, setiap waktu mendirikan
Ash sholat : sholat
Selalu terus menerus sholat, sholat 5 waktu ditambah sholat sunnah seperti rawatib, sholat dhuha dan qiyamullail. Sholat adalah bukti tunduknya jiwa kepada Alloh, hatinya selalu bersujud dan berhubungan dengan Alloh SWT siang dan malam, berhubungan dengan Zat yang menjadi sumber kekuatan langit dan bumi. Inilah persepsi rabbaniyah, perasaan rabbaniyah dan perilaku rabbaninyah, “yang selalu disertai dengan bimbingan keTuhanan.”
c.       Wamimma rozaqnaahum yunfiquun.
Dan dari sebagian apa2 (segala sesuatu) rizqi yang telah kami berikan kepada mereka, mereka meng infakkannya.
Mengapa infaq tempatnya di akhir? karena segala rizqi itu berasal dari Alloh, bukan ciptaan dirinya sendiri. Mengeluarkan rizqi yang sudah diberikan oleh Alloh (fi’il madhi : past tense) merupakan cermin pembersihan jiwa dari penyakit bakhil dan penyuciannya dengan melalukan kebajikan. Inilah lapangan kehidupan untuk saling tolong-menolong, untuk memberikan rasa aman kepada yang tak berdaya, lemah dan terbatas.
Infaq dalam hal ini mencakup zakat dan shodaqoh, segala hal yang dinafkahkan untuk kebaikan dan kebajikan, dan infaq disyari’atkan sebelum disyari’atkannya zakat, karena infaq merupakan pokok yang menyeluruh, yang dikhususkan oleh nash-nash zakat namun tidak menghabiskan semuanya.
“Sesungguhnya pada harta itu terdapat kewajiban selain zakat.” (HR. At Tirmidzi)

4.       Walladziina yu’minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila minqoblika wabil aakhiroti hum yuuqinuun.
Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang telah diturunkan dari sebelum kamu ....
Yu’minuuna : selalu, terus menerus beriman, bi : dengan/kepada 100% , maa : segala apa2 , unzila : yg telah diturunkan , ilaika : kepadamu (Muhammad), yaitu Al kitab/Al Qur’an.

Inilah gambaran dari orang-orang yang bertaqwa, bahwa mereka mengimani 100% terhadap segala apapun yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad berupa Alkitab (Al Qur’an). Hal ini sejalan dengan cara pandang orang-orang yang bertaqwa, yang memandang bahwa tidak ada keraguan sedikitpun terhadap Al Kitab (Al Qur’an), sehingga Al Qur’an ini menjadi petunjuk hidup bagi orang-orang yang bertaqwa. Dalam ayat ini Alloh menegaskan kembali bahwa orang-orang yang bertaqwa itu tiada henti-hentinya menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk dan selalu mengimaninya (dengan mengamalkan semua isi Al Kitab/Al Qur’an).
Beriman kepada apa2 yang telah diturunkan dari sebelum kamu (Muhammad)...
Mengimani bahwa ada rangkaian diturunkannya Nabi-nabi dan Rasul-rasul di setiap zaman/waktu dan berbeda tempat sebelum Nabi Muhammad, yang para Nabi dan Rasul itu membawa Risalah yang sama yaitu Tauhidulloh (penyembahan hanya kepada Alloh). Dan bahwa para Nabi itu membawa risalah dengan Kitabnya masing-masing, sesuai dengan keadaan kaumnya pada masa itu. Dan bahwa inti dari semua isi kitab adalah mengajak manusia hanya menyembah Alloh semata.
Inilah sifat dari kaum muslimin, menjadi generasi pewaris para Nabi dengan agama samawi , adanya kesatuan dan persaudaraan antar umat manusia meskipun berbeda generasi, kesatuan dan persatuan yang diikat oleh kesamaan aqidah, kesamaan keimanan kepada semua Nabi-nabi dan Rasul-Rasul, kesamaan pada keimanan terhadap kitab-kitab yang diturunkan kepada seluruh Rasul. Keimanan bahwa Alloh menjaga manusia dari setiap zaman dan generasinya, dari para penyesat dan golongan manusia yang menentangnya, dengan menurunkan para Rasul dan Kitab-kitabnya, yang memberi petunjuk manusia untuk mengikuti jalan kebenaran dan aqidah yang lurus. 
Orang-orang yang bertaqwa pun mengimani jalan hidup semua Nabi-nabi dan Rasul-rasul, dan sepak terjang da’wahnya ketika berda’wah ditengah kaumnya. Menjadikan setiap perjalanan hidup dan da’wahnya sebagai ‘ibrah (pelajaran) yang bisa ditiru dan diambil hikmahnya.

Wabil aakhiroti hum yuuqinuun.
Wa : dan, bi : dengan 100%, Al Akhirot : negeri akhirat, hum : mereka , yuuqinuun : selalu, terus menerus yakin.
Orang-orang yang bertaqwa 100% terhadap adanya negeri akhirot selalu terus menerus yakin. Akibat keyakinannya ini menjadikannya hidup di dunia ini hanyalah bagian dari rangkaian kehidupan dan kematian yang sudah Alloh tentukan masanya. Bahwa setiap amal tiadalah yang sia-sia dan selalu ada pembalasan, setiap perbuatan baik dibalas dengan pahala, ampunan dan ridho Nya, dan setiap perbuatan buruk dibalas dengan kehinaan, siksa dan adzab yang pedih, dan ini adalah keadilan dari Alloh SWT. Manusia tidak diciptakan dengan sia-sia, ada makna dan tujuan dari penciptaan. Berbeda dengan kebanyakan manusia yang menganggap hidup di dunia adalah segala-galanya baginya di alam semesta, sehingga mereka merasa mempunyai “kekuasaan penuh” dalam berbuat dimuka bumi, dengan sewenang-wenang dan melampaui batas, berbuat semaunya dengan memperturutkan hawa nafsu dan keserakahannya sebagai manusia.
Orang-orang yang bertaqwa menjadikan kehidupan dunia sebagai sasaran ujian yang mengantarkannya untuk mendapatkan pembalasan, sedangkan kehidupan yang hakiki adalah di negeri akhirat yang tidak berbatas waktu....

5.       Ulaaika ‘alaa hudamirrobbihim wa ulaaika humul muflihuun.

Mereka itulah  orang-orang yang atas mereka hidaya/petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yg beruntung.

Setelah Alloh menerangkan (dari ayat 2) tentang Al Qur’an yang tidak ada keraguan didalamnya, orang-orang yang bertaqwa menjadikan Al Qur’an itu petunjuk/hidayah atas kehidupannya, (dari ayat 3) dan orang2 yang bertaqwa itu selalu terus menerus beriman kepada yang Ghaib (Alloh), dan selalu terus menerus mendirikan sholat siang dan malam, pagi dan sore, dan selalu atas rizqi yang telah Alloh berikan atas mereka, mereka menginfakkannya, (dari ayat 4) dan orang-orang yang bertaqwa itu selalu terus menerus beriman kepada segala apa yang telah diturunkan Alloh kepada Nabi Muhammad dan selalu terus menerus beriman kepada segala apa yang telah diturunkan kepada Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad, dan mereka terhadap negeri akhirat termasuk yang selalu terus menerus yakin.
Maka inilah kesimpulan dari orang-orang yang bertaqwa dan keseluruhan amalnya di dunia, bahwa merekalah orang-orang yang hidup dibawah petunjuk Al Qur’an dari Tuhan (rabb) mereka, Al Qur’an hidup dalam diri mereka dan sepanjang kehidupannya di dunia, hingga Alloh memanggilnya (wafat), dan diujung kehidupannya di dunia, awal dari kematian kedua sebelum kehidupannya yang kedua, orang-orang yang bertaqwa sudah mendapati apa yang dijanjikan Alloh bahwa mereka adalah orang-orang yang beruntung. Dunia adalah tempat berjual beli antaraoarang-orang yang bertaqwa dengan Alloh, dan setelah selesai transaksi, maka orang-orang yang bertaqwa mendapatkan lab (keuntungan) yang besar, berupa pahala, ampunan dan Ridho Alloh (Jannatun na’im).

Wallohu a’lam bishshowwab..